2017
7. Apa yang anda ketahui tentang hukum alam, sunatullah, qadar (takdir) dan qadla’. Jelaskan secara ringkas!
Jawab :
Hukum alam/sunatullah/takdir merupakan hal yang memang sudah menjadi kehendak Allah, karena disitu Allah sudah membuat peraturan atau undang-undang permanen yang bersifat ajeg, misalnya orang makan akan kenyang, dan memang yang menjadikan seseorang itu kenyang merupakan takdir Allah, tapi butuh proses untuk menjadi kenyang yaitu dengan makan. Namun demikian manusia dengan anugerah akal yang diberikan oleh Allah bisa memahami dan memilih serta memanfaatkan hukum alam sehingga hukum alam tersebut dapat digabung atau dicampur sehingga membuka peluang bagi manusia untuk melakukan penelitian. Dan hukum seperti inilah disebut sebagi hukum alam rekayasa oleh manusia. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla.
Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla.
Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir. Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan.
8. Apa kontribusi pandangan Islam tentang alam (dengan hukum alam didalamnya) terhadap ilmu pengetahuan? Gambarkan sumber ilmu pengetahuan menurut (epistemologi) filsafat pendidikan dan epistemologi antroposentris!
Jawab:
Karena Ilmu pengetahuan bersumber dari hukum alam yang terdapat di alam semesta, maka pandangan Islam banyak sekali memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan, diantaranya:
· Bahwasanya manusia kalau ingin maju dan sukses, ia harus menyesuaikan diri dengan hukum alam, menempuh serta memanfaatkanya. Menolak hukum alam hanya dapat dilakukan dengan menggunakan hukum alam yang lain, dan yang demikian itu hakikatnya rekayasa dan bukan menolak. Menolak sunatullah berarti menentang takdir, pasti gagal, hancur atau rugi.
· Pandangan Islam tentang alam dapat memberi kontribusi sangat penting dan mendasar terhadap materi pendidikan Islam. Yakni materi harus ilmiah (logis, sesuai hukum alam dan wahyu), tidak sekadar fanatisme buta atau mitos.
· Terhadap cara berpikir dan sikap para pendidik, peserta didik dan semua orang yang terlibat dalam pendidikan. Mereka harus banyak belajar dari hukum alam yang memberi pelajaran bagaimana Allah mendidik alam semesta ini. Betapa obyektif, adil, pengasih, tegas, disiplin, aktif, menghargai waktu, beretos kerja tinggi, tidak malas, dsb. Dengan ungkapan lain, manusia mesti meneladani sifat Allah dalam mendidik alam semesta, tentunya dengan kapasitas dan kemampuan manusiawi mereka.
· Terhadap penyusun kurikulum dan pembuat kebijakan pendidikan (Islam) agar secara keseluruhan mempertimbangkan dan mengindahkan karakteristik hukum alam atau sunatullah, termasuk realitas psikologi perkembangan manusia. Sebab menentangnya merupakan tindakan merugikan dan pada gilirannya akan membuahkan kegagalan.
· Terhadap pembuat kebijakan pendidikan Islam secara keseluruhan agar mempertimbangkan saifat2 alamiah/hukum alam dan wahyu.
Epistemologi merupakan salah satu komponen filsafat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, khususnya berkenaan dengan cara, proses, dan prsedur bagaimana ilmu itu diperoleh. Maka ilmu pengetahuan di peroleh dari pemikiran yang menggunakan akal, dari data empirik yang sudah terbukti kebenarannya dan dari wahyu yang di sampaikan oleh Rasulullah Saw. Serta dengan objeknya alam semesta
Sumber ilmu pengetahuan bagi epistemologi antroposentris hanya hukum alam saja, sedangkan epistemologi pendidikan Islam selain hukum alam. Sumber kebenaran lain adalah ayat-ayat Allah yang tertuang dalam al Quran dan hadist yang berdasarkan wahyu.
Salah satu pandangan Islam tentang alam, manusia diarahkan agar tidak semata-mata menggunakan rasio dalam memahami dan menghayatinya, tetapi ia juga harus menyerahkan hati, emosi dan perasaan demikian juga dalam meneliti dan berusaha memahami wahyu, hendaknya manusia secara simultan juga menggunakan otak atau rasio dan hati. Jika manusia memahami wahyu hanya dengan menggunakan rasio niscaya manusia akan kkehilangan dalam menemukan makna sesunggunhnya jika ttanpa di barenagi dengan iman dan keyakinan intuisi dalam hati. Jika manusia hanya menggunakan kebenaran manusia menurut manusia maka manusia tidak akan menemukan kkehidupan yang sesungguhnya yaitu tidak dapat menggambarkan surga dan neraka dll. Karena selain hak pemikiran kebenaran manusia juga berlaku yang paling urgen yaitu hak kebenaran Allah ini semua tidak akan dapat di ambil oleh manusia jika manusia tidak menggunakan keimanan dan ketataan.
9. Apakah sumber ilmu pengetahuan menurut (epistemologi) filsafat pendidikan Islam dan alat untuk memperolehnya?
Jawab :
Epistemologi sekuler hanya didasarkan pada kekuatan akal (rasional) dan empiris semata, sedangkan dalam epistemologi pendidikan Islam pengetahuan tak hanya didasari oleh dua faktor tersebut, tetapi juga bersumber pada wahyu yang berasal dari Al-Quran dan As Sunnah. wahyu itu justru menjadi kualitas tertinggi dari ilmu pengetahuan dasar. Wahyu melindungi akal dari kesalahan dan menyediakan informasi tentang suatu hal yang tidak kasat mata mengingat akal tidak bisa memahami secara penuh dunia yang empiris tanpa bantuan, sekaligus wahyu berperan sebagai imam bagi akal. Wahyu yang membimbing, mengarahkan, mengontrol, dan memberikan inspirasi terhadap epistemologi. Selain itu, pengetahuan manusia dalam disiplin ilmu juga sangat terbatas, sehingga wahyu diperlukan bagi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Akal manusia bisa diperdaya dan kecerdasannya pun terbatas dalam menginterpretasikan beragam persepsi.
Di sisi lain, manusia tidak bisa mengetahui hal yang tak kasat mata, di mana masa lalu dan masa depan diyakini tidak dapat diketahui. Untuk mengatasi kendala-kendala, kelemahan-kelemahan, problematika pendidikan Islam serta untuk membangun peradaban Islam yang lebih baik tersebut, perlu melakukan reformasi atau merekonstruksi epistemologi pendidikan Islam. Dengan adanya reformasi epistemologi pendidikan Islam ini diharapkan kualitas belajar dan penelitian akan tercapai sehingga dapat mendorong peserta didik dan pengajar untuk melakukan proses KBM dalam bingkai tauhid. Di samping itu, rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam ini bertujuan untuk mewujudkan model pendidikan Islam yang mencerdaskan. Semoga tulisan kecil ini, dapat ikut andil dalam membenahi sistempendidikan Islam saat ini untuk membangun peradaban Islam yang lebih baik.
Sumber ilmu pengetahuan epistimologi filsafat pendidikan Islam ialah alam tabiat atau alam fisik, al- Qur’an dan al-Hadis, alam semesta, peristiwa-peristtiwa yang terjadi atau sunahtullah dan alat untuk memperolehnya adalah pertama indra yaitu dengan menggunakan penglihaan, perasaan dan pendengaran dalam menyimak sebuahfenomena yang terjadi, logika yang memecahkan masalah atau mencari kebenaran atau menjawab fenomena yang ada menggunakan akal. Alam akal, analogi, hati dan ilham, alat untuk memperolehnya juga dengan menggunakan alam akal, analogi, hati dan ilham, pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial dan alam sekitar. Namun tidak hanya sampai disitu perlu adanya pembuktian dengan cara penelitian secara emperisme, dengan hasil emperisme dapa di telaah dengan intuisi dan akal dengan berpijak pada wahyu dengan cara perenungan lebih mendalam.
10. Apa saja karakteristik filsafat pendidikan Islam?
Jawab :
Terdapat 7 karakteristik Filsafat Pendidikan Islam :
1) Berdasarkan Al Quran , Hadist dan akal/ijtihad.
2) Besifat kreatif, inovatif dan selalu bernuansa mengangkat derajat dan martabat manusia.
3) Menumbuhkembangkan potensi sekaligus mengarahkan atau membentuk peserta didik sejalan dengan visi Islam.
4) Menggunakan metode yang berorientasi pada pembentukan sikap dan internalisasi njlai-nilai Islami disamping metode yang berorientasi pada memandaikan anak dan bersifat keilmuan.
5) Obyek pendidikannya mencakup pendidikan fisik, psikis (termasuk akal, hati, keterampilan), dan rohani dalam arti spiritual.
6) Arti, peranan, dan fungsi fitrah yang istimewa dan lain dari yang lain menyertai pendidikan Islam.
7) Menerima hasil penelitian terhadap hukum alam (hasil penelitian rasional-empirik), dan hasil penafsiran terhadap wahyu berupa ayat-ayat al Quran dan Hadist yang sahih, sebagai sumber kebenaran dan sumber ilmu pengetahuan.
11. Jelaskan ruang lingkup filsafat pendidikan Islam! Apa dan bagaimana bedanya dengan ilmu pendidikan Islam!
Jawab:
Ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam ialah realitas-realitas dasar kemudian tema-tema penting pendidikan islam di bahas secara filosofis dengan cara kerja filsafat hingga menghasilkan konsep-konsep bijaksana berkenaan dengan pilar-pilar pendidikan islam yang dilandasi pemiliran luas dan mendalam. Disamping itu ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam juga merupakan masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
Ruang lingkup ilmu pendidikan Islam realitas-realitas dasar kemudian tema-tema penting pendidikan islam di bahas secara rasional dan empirik menggunakan paradigma ilmiah yaitu yang dapat di ukur dan sisttematis
12. Apakah manusia itu? Apa yang membedakannya dari makhluk lain? (misal : binatang, setan, dan malaikat) ?
Jawab:
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terdiri dari fisik, psikis dan rohani yang mengakomondasi seluruhnya. Yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya adalah bahwa manusia merupakan ciptaan Allah yang dikaruniai perangkat yang lebih lengkap dengan makhluk lainnya, yaitu instink, gerak, refleks, panca indera, nafsu dan akal (dalam konsep Islam, akal tidak hanya rasio ia meliputi pula intuisi hati, dan hati nurani) serta potensi beragama.Tidak ada makhluk di bumi ini ang mendapatkan karunia selengkapnya dan yang teristimewa dari anugerah Allah tersebut adalah potensi akal dan nafsu yang mampu membuat manusia mencapai derajat tertinggi sekalipun dibandingkan dengan malaikat, yang notabene tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Namun apabila anugrah yang diberikan akal dan nafsu salah di gunakan maka temapat yang tinggi menjadi rendah serendah rendahnya dan lebih rendah dari pada binatang. Manusia juga diberi ruh sekaligus jasad dengan plus hidayah – hidayah agama disamping poensi-potensi dasar lainnya deng kebebasan berpikir dengan menggunakan akalnya
Binatang tidak memiliki akal dan tidak memiliki potensi beragama. Tumbuhan hanya memiliki hidayah, instink. Malaikat hanya memiliki nafsu positif dan tidak memiliki nafsu negative karena seluruh malaikat adalah mahluk yang sangat taat dan tunduk kepada rabb mereka ini merupakan sunahullah kepada mereka. Tetapi manusia memiliki itu semua. Inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya.
13. Apa tujuan hidup manusia? Apa relevansinya dengan konseptualisasi tujuan pendidikan Islam?
Jawab:
Tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada allah sebagai hambaNYA dan menjadi khalifah yang sukses dalam memimpin dan memakmurkan bumi. Sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah sebagai berikut:
1. QS. Az Zariyat : 56
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#uržwÎ)Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada KU”
Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.
2. QS. Al Baqarah : 30
øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’ÎûÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz(
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bum...”
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan tujuan memimpin (menjadi khalifah) dimuka bumi.
14. Menurut anda, mengapa manusia ditetapkan menjadi khalifah dimuka bumi (bukan makhluk yang lain)?
Jawab:
Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah.
Menurut saya karena segala sesuatu yang dimiliki oleh makhluk lain dimiliki juga oleh manusia tetapi makhluk lain hanya memiliki sebagian – sebagian yang dimiliki oleh manusia. Sebut saja malikat mengapa tidak dijadikan khalifah itu karena malaikat hanya mempunyai rasa takwa dan patuh kepada Rabb tidak mempunyai jasad dan nafsu dan akal yang dimiliki hanya akal yang sudah di set hanya untuk berfikir positif tanpa ada masalah dalam kehidupannya hanya menjalankan kehidupan yang sangat kaku tidak ada kolaborasi hanya itu –itu saja di alam mereka tidak ada kompetisi dalam menjalani sebuah kehidupan karena kehidupan mereka telah dikotak-kotakkan menurut tugasnnya masing-masing. Begitu pula dengan iblis yang hampir sama identitasnya dengan malaikat jika malaikat identik dengan hal yang berbau positif berbeda halnya dengan iblis yang berbau negatif pasalnya iblis hanya menjalani kehidupan hanya satu misi yaitu mempengaruhi manusia agar masuk neraka yang hidup sampai akhir zaman yang idak ada jasad hanya nafsu untuk menghasut manusia, disini mereka tidak ada kompetisi untuk hidup lebih baik hanya menjurus kepada sikap yang membbangkang terhadap rabb, oleh karena itu iblis tidak layak untuk di jadikan khalifah, begitu juga dengan binatang hanya di berikan kesempatan hidup seperti manusia namun tidak di berikan akal dan hati nurani hanya nafsu saja walaupun diberikan jasad oleh karena itu binatang tidak memiliki pandangan hidup, hidup hanya mengikuti sebagaimana air mengalir.
15. Menurut anda, apa kelebihan dan kelemahan manusia dibanding makhluk lain?
Jawab:
a. Kelebihan
Kelebihan manusia dibandingkan dengan makluk lain ialah Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.
Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa melampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atau makhluk lain dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 70.
* ô‰s)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/tPyŠ#uäöNßg»oYù=uHxqur ’ÎûÎhŽy9ø9$# Ìóst7ø9$#urNßg»oYø%y—u‘ur šÆÏiBÏM»t7ÍhŠ©Ü9$#óOßg»uZù=žÒsùur4’n?tã 9ŽÏVŸ2 ô`£JÏiB$oYø)n=yzWxŠÅÒøÿs? ÇÐÉÈ
Artinya: Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.
Diantara karakteristik manusia adalah :
1. Aspek Kreasi
2. Aspek Ilmu
3. Aspek Kehendak
4. Pengarahan Akhlak
Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing. Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam.
Sedangkan tumbuhan makhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan.
Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membeda manusia dari segala makhluk lainnya.Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yg tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.
Al Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah. Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia.
Potensi yang dimiliki manusia dapat dikelompokkan pada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi ruhaniah.Potensi fisik manisia adalah sifat psikologis spiritual manusia sebagai makhluk yang berfikir diberi ilmu dan memikul amanah.sedangkan potensi ruhaniah adalah akal, gaib, dan nafsu. Akal dalam penertian bahasa Indonesia berarti pikiran atau rasio. Dalam Al Qur’an akal diartikan dengan kebijaksanaan, intelegensia, dan pengertian. Dengan demikian di dalam Al Qur’an akal bukan hanya pada ranah rasio, tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu akal diartikan dengan hikmah atau bijaksana.
Kelemahan
Manusia adalah makhluk yang lemah Q.S. an-Nisaa ayat 28 hamka mengattakan bahwa lemah dalam mengendalikan hawa nafsu dan syahwat hingga allah membolehkan untuk berpoligami hingga 4.
Manusia itu nakal apabila ia di timpa musibah maka ia bersegera berhadap kepada Allah tetapi jika mereka sudah lapang mereka melupakan Allah dan mengatakan bahwa semua yang ia peroleh dari usahanya sendiri dan kepintarannya semata.
Manusia bersikap sombong, ia tidak mau sberterima kasih dan mudah putus asa
Manusia sering mencelakakan dirinya sendiri yaittu dengan mengkonsumsi barang yang di haramkan tidak menyayangi kesehaan badannya sendiri dsb.
Manusia itu senang membantah (Q.S. an-Nahal : 4 dan al-Kahfi: 54)
Manusia itu bersifat tergesa-gesa ini sering membahayakan dirinya sendiri dan sangat banyak penyesalan dan kegagalan disebabkan karena ketergesa-gesaan manusia dalam menyelesaikan masalah. ( Q.S. al-Isra : 11 dan Q.S al- Anbiyaa 17)
Manusia itu pelit bahwa apabila manusia sudah di beri rezeki maka ia akan kikir dalam membelanjakannya ini di lukiskan dalam (Q.S. Al-Isra : 100)
Manusia juga suka mengeluh Allah Swt menggambarkan dalam al-Qur’an bahwa manusia selalu dalam keadaan berkeluh kesah apabila ia di timpa masalah.
Manusia selalu berbuat maksiat terus menerus dan bertindak melampaui batas apabila ia merasa bahwa ia sudah mempunyai segala-galanya.
16. Apa tugas khalifah Allah dimuka bumi?
Jawab:
Tugas manusia sebagai khalifah dimuka bumi:
1. Yang bercorak keduniaan seperti:
a. Memakmurkan bumi, petunjuknya terdapat dalam QS. Hud 11-61 :
( uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiBÇÚö‘F{$#óOä.tyJ÷ètGó™$#ur$pkŽÏù
"Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) da menjadikan kamu pemakmurnya”
b. Membangun budaya yang baik, yaitu budaya yang membawa “hasanatan fiddunya wal akhirah” .
c. Menjadi rahmat bagi lingkungan dan alam semesta, sesuai dengan firman Allah dalam QS Al Anbiya :21:107:
!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ)ZptHôqy‘šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”
d. Mencari jawaban atas proplema fenomena yang terjadi dengan bantuan akal melaui ilmu pengetahuan yang dimiliki
e. Dapat menguasai dunia yang berlandaskan petunjul al-Qur’an daan al-Hadist
2. Yang bercorak keagamaan antara lain menegakkan agama dengan cara mengusahakan terselenggaranya pendidikan agama Islam secara proporsional, dakwah dan melaksanakan al amru bil ma’ruf dan an nahyu ‘anil munkar sampai dengan jihasd dalam arti luas. Sebagaimana yang diterangkan salah satu ayat al Quran berikut:
äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™y7În/u‘ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# (Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr&
“serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…….”
Disamping itu tugas khalifah juga Belajar seperi terdapat dalam (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54) belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an. Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39).ilmu yang diajarkan oleh khalifatullah bukan hanya ilmu yang dikarang manusia saja, tetapi juga ilmu Allah. Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 )
17. Bagaimana manusia yang berkualitas (ideal) menurut Islam?
Jawab:
Manusia yang berkualitas menurut Islam memiliki ciri-ciri yang digali dari Al quran dan Hadist, antara lain :
1. Beriman dan bertakwa
2. Berilmu dan sehat lahir dan bathin.
3. Berakhlak mulia
4. Beretos kerja (Islami) tinggi
5. Menunaikan tugas amar ma’ruf nahi munkar
6. Mengembangkan silaturrahim yang baik, tolong menolong dengan masyarakat lingkungan.
7. Profesional
8. Menguasai dan menerapkan manajemen yang baik
9. Mandiri dan mengembangkan sikap entrepreneurship
10. Memberi manfaat kepada orang lain dan menjadi rahmatan lil alamin.
11. Dapat memecahkan masalah yang sedang di hadapi oleh umat manusia
18. Bagaimana konsep fitrah dalam Islam? Apa/bagaimana relevansinya dengan konseptualisasi pendidikan Islam?
Jawab:
Berdasarkan hadist nabi : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Namun kedua orang tuanyalah mungkin dapat menjadikannya beragama yahudi, nasrani, atau majusi”, dan kemudian dikaitkan dengan QS. Ar Ruum : 30, dapat dipetik kesimpulan bahwa firtah diartikan sebagai iman, bertauhid dan Islam. Para pakar pendidikan Islam memperluas arti fitrah, selain iman, tauhid dan Islam juga pembawaan baik. Jadi setiap manusia pada fitrahnya menyukai kebaikan, keindahan, kebenaran, keadilan dan sebagainya. Dan tidak menyukai keburukan, kejahatan, kesalahan, ketidakadilan, dan sejenisnya. Maka segenap fitrah manusia yang berupa potensi itu selain diusahakan agar tumbuh dan berkembang, mesti dan perlu juga dididik dan diarahkan. Karena pengaruh keluarga dan lingkungan dalam kehidupan yang dapat merubah fitrah dasar manusia dari yang baik menjadi buruk.
Fitrah itu pada hakikatnya tidak berubah, hanya lingkungan dan faktor lainnya yang menyebabkan fitrah itu menjadi kabur. Oleh karena itu penjahat tingkat tinggi sekalipun tidak akan rela anaknya mau menjadi seorang penjahat. Oleh karena fitrah yang timbul cendrung kepada kebaikan masih menyala didalam selung hati jiwa manusia kecuali bagi manusia yang batiniahnya sudah di tutup oleh sang khalik.
Relevansinya dengan konseptualisasi pendidikan Islam :
Dalam mengkondisikan pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan realitas fitrah, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, terutama dinamika psikologis mereka, hingga mereka termotivasi untuk belajar dan pembelajaran menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dengan adanya pendidikan yaitu sebagai komando penggiring kehidupan yang akan dijalani oleh manusia agar fitranya tetap terjaga dengan baik dan dapat membentengi diri dari pengaruh negatif dalam kehidupan. Karena dengan adanya pagar pendidikan Islam yang baik seseorag akan merasa terawasi setiap saat oleh sang pencipta dengan keyakinan yang di miliki berdasarkan pendidikan Islam yang telah ditekuni. Karena dengan perkembangan globalisasi pendidikan moral sangat memprihatinkan dan percepatan IPTEK yang pesat, dalam perceppaan IPTEK tidak hanya kelebihannya namun terselib ancaman kekurangannya bagi manusia yang tidak memanfaatkan dengan baik.
19. Kontribusi apa saja yang bisa digali dari pandangan Islam tentang manusia terhadap konseptualisasi pendidikan Islam?
Jawab:
Kontribusi yang dapat digali dari pandangan Islam tentang manusia terhadap konseptualisasi pendidikan Islam, antara lain:
1. Pada penetapan visi, misi dan tujuan pendidikan Islam harus sinkron dan menunjang usaha pencapaian tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam. Karena visi, misi, dan tujuan pendidikan Islam (mesti) dibuat dalam rangka merealisasikan usaha pencapaian tujuan hidup orang Islam. Perlu dijadikan catatan bahwasanya penetapan tujuan pendidikan harus mempertimbangkan baik-baik masalah proses.
2. Pada orientasi pendidikan Islam yang bersikap menumbuhkembangkan serta mengaktualisasikan potensi peserta didik sekaligus mengarahkannya pada sasaran-sasaran yang sejalan dengan tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam.
3. Pada materi atau isi pendidikan Islam. Bahwasanya “isi” pendidikan Islam tidak terbatas hanya ilmu pengetahuan yang berupa mata pelajaran, mata kuliah, atau bidang studi (IPA, IPS- Humaniora dan Ilmu Agama), lebih dari itu proses penanaman nilai yang bisa direncanakan atau didesain juga merupakan bagian dari “isi” pendidikan Islam.
4. Pada pemilihan dan pengaturan materi, referensi, metode pembelajaran, alat peraga dan sistem evaluasinya, mesti disesuaikan dengan realitas serta perkembangan psikis dan fisik para peserta didik.
5. Pada konseptualisasi kurikulum pendidikannya, harus mencari relevansi dengan kebutuhan peserta didik, stakeholder dan masyarakat yang berkepentingan disatu pihak, namun harus tetap komit dan konsisten dengan visi dan misi pendidikan Islamnya dipihak lain.
6. Pengkondisian pembelajaran, hendaknya disesuaikan dengan realitas fitrah, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, terutama dinamika psikologis mereka, hingga mereka termotivasi untuk belajar dan pembelajaran menjadi sesuatu yang menyenangkan.
20. Apakah makna hidup menurut Islam? Apa/bagaimana implikasi jawaban terhadap pertanyaan itu terhadap konseptualisasi pendidikan Islam?
Jawab:
Makna hidup menurut Islam:
a. Hidup adalah kesempatan untuk beribadah dan mencari ridhaNYA, sebagaimana tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana terdapat dalam firman Allah, QS. Az Zariyat : 56, Yang artinya : “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKU”. Beribadah bagi manusia adalah target, standar keberhasilan, sekaligus tujuan dan tugas dalam hidup ini, disamping kewajiban dan keharusan. Ibadah dijadikan tumpuan tujuan hidup, jadi jika tidak diamalkan maka batal meraih tujuan hidup. Sehingga kesadaran akan hal ini sangat tepat menjadi motivasi dalam beramal.
b. Hidup adalah medan untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah dimuka bumi, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al Baqarah : 30 yang terjemahannya : ““Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” dan QS. Al An’am : 165, yang terjemahannya adalah : “ Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan Dia meninggalkan sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNYA kepadamu…”. Tidak hanya ibadah yang sifatnya mahdhah saja bagi setiap muslim dalam memandang hidup, melainkan menggarap bumi dan mengelola urusan dunia dengan baik juga masuk kategori ibadah, sepanjang cara yang ditempuh mendapat ridhaNYA.
c. Hidup adalah kesempatan untuk beraktualisasi diri dan beramal, sesuai dengan makna firman Allah dalam QS. At Taubat : 105 : “ Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, Maka Allah dan RasulNYa serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. Jadi hiduup adalah medan untuk berkiprah, berusaha dan bekerja. Setiap amal yang positif hendaknya diniatkan dengan ibadah. Hidup adalah menabung pahala dengan pahala.
d. Hidup adalah medan untuk memperoleh kebaikan didunia dan di akhirat. Firman Allah dalam QS Al Baqarah : 200-202, “ Maka diantara manusia ada orang yang berdoa : “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) didunia”. Dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) diakhirat. Dan diantara mereka ada orang yang berdoa : “Ya Tuhan kami, berilah kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan”. Kebahagiaan terkait dengan amal didunia bagi orang yang beriman mesti mengandung nilai ibadah hingga layak baginya untuk mengharapkan buah kebahagiaan dan keberuntungan diakhirat kelak, disamping kenikmatan dunia.
e. Hidup sebagai tempat ujian. Ujian tidak hanya berupa musibah, penderitaan, dan realitas yang tidak diharapkan, namun kenikmatan serta pilihan-pilihan yang dihadapkan juga merupakan ujian. Firman Allah QS Al kahfi : & : “ Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya”. Dengan demikian manusia yang beriman tidak akan putus asa ketika mendapata ujian berupa musibah dan tidak sombong ketika mendapat kenikmatan karena mereka menyadari bahwa itu adalah ujian dari Allah.
Implikasi terhadap konseptualiasai pendidikan Islam :
Hendaknya wawasan tentang hidup menurut konsep Islam diajarkan kepada peserta didik, sehingga nantinya dapat diinternalisasikan kedalam diri dan menjadi cara berpikir, pandangan, keyakinan dan falsafah hidup peserta didik dalam hidupnya. Namun dalam proses internalisasinya perlu diiringi dengan wawasan realistik keduniaan yang beraneka ragam, dengan analisis yang cerdas dan proporsional, hingga peserta didik terhindar dari sikap mudah frustasi, kehilangan pegangan, terjerumus pada pemahaman parsial, ekstrem dan sebagainya. Yang pada akhirnya akan membentuk pribadi peserta didik yang bertanggung jawab, toleran dan kreatif- proporsional dalam menyikapi hidup.
21. Bagaimana pandangan dan tanggapan Islam terhadap budaya? Apa dampak (kontribusinya) terhadap konseptualisasi pendidikan Islam?
Jawab :
Budaya, yang secara mudah sering diartikan "hasil budi dan daya manusia", budaya disebut juga dengan tradisi atau kebiasaan masyarakat. Tradisi, dinamika sosial, politik, ekonomi, kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, kemiliteran, kenegaraan, sistem kepercayaan, merupakan produk budi dan daya manusia, tentu termasuk dalam kategori budaya.
Dalam hal ini ajaran Islam justeru menampilkan ajaran yang sangat jelas. Dinyatakan dalam firman-Nya, QS. Ali 'Imran 3:110:
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_Ì÷zé&Ĩ$¨Y=Ï9tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/šcöqyg÷Ys?ur Ç`tãÌx6ZßJø9$# 4ÇÊÊÉÈ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ...".
Menyuruh berbuat ma'ruf, salah satu bentuk penjabarannya tentu identik dengan usaha sungguh-sungguh membangun budaya yang baik. Tidak sekadar menerima dan melestarikan dengan sikap pasif melainkan juga membangun budaya yang baik. Dan tidak menerima budaya tanpa adanya filter atau adanya sikap selektif.
Kontribusinya terhadap konseptualisasi Pendidikan Islam:
Sebagaimana secara tegas Islam menentang budaya munkar, budaya negatif dan merusak. Dari penegasan di atas, Islam jelas memerintahkan pemeluknya agar membangun budaya secara tidak tanggung-tanggung. Karena dengan pembangunan budaya ma'ruf, budaya baik yang berhasil dibangun, keberhasilan upaya nahi munkar, mencegah budaya munkar akan sangat terbantu.
Pada sisi cultural universal dan sikap hidup yang berkualitas seperti di bidang kesenian, entertainment, sosial, ekonomi, politik, memproduksi kebutuhan hidup, prestasi di bidang teknologi, budaya giat bekerja, disiplin, menghargai waktu, tolong menolong, jujur, adil, amanah, bertanggung jawab, takwa, profesional (terkandung dalam ajaran ihsan), menjadi rahmatan lil ‘alamin, dan sebagainya, umat Islam umumnya disinyalir masih jauh terbelakang di banding umat dan bangsa-bangsa lain, apalagi dibanding masyarakat negara-negara maju. Konsekuensi logisnya mereka selalu lebih banyak berperan sebagai obyek.
Satu contoh lemahnya kesadaran berbudaya umat Islam di negeri ini tampak jelas pada minimnya pembuatan dan sinetron yang membangun akhlak yang baik untuk acara-acara di TV. Dalam rangka melawan efek negatif tayangan-tayangan kontra edukatif yang berdampak sangat berbahaya bagi keberagamaan dan akhlak generasi muda. melalui TV harus ada usaha sungguh-sungguh menyediakan produk acara-acara positif edukatif yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkesinambungan. Tindakan demikian merupakan contoh membangun budaya positif. Tanpa imbangan membangun budaya ma'ruf yang memadai, berbagai upaya menentang budaya munkar, tampaknya selalu hanya menjadi tindakan yang menggebu-gebu, tapi tidak membuahkan hasil perbaikan budaya seperti yang diharapkan. Jadi orientasi "membangun" budaya positif tidak sekadar melestarikannya.
Dalam kehidupan sehari-hari percampuran antara (ajaran amaliah) agama yang bukan budaya dan perilaku budaya, sangat banyak terjadi. Ajaran amaliah agama yang bukan budaya mudah kita temukan dalam amalan-amalan "al`ubudiyah" seperti shalat dzuhur empat rakaat dalam keadaan normal, amalan shalat formalnya diawali dengan takbfratul-ihram, dan diakhiri dengan salam. Mudah didapatkan pula pada hukum-hukum qath'iy seperti diharamkannya babi dan khamr (minuman keras). Jelas terbukti ada ajaran agama yang sama sekali bukan budaya. Adapun hasil ijtihad yang bersumber dari wahyu, kiranya bisa dikategorikan agama yang sudah disertai budaya. Ini mudah ditemukan dalam masalah khilafiyah fighlyyah, misal: penghasilan kerja profesi yang melebihi nisab, seperti penghasilan dokter, PNS, dan sebagainya wajib dizakati atau tidak; orang Islam membuka restoran siang hari di bulan Ramadhan, boleh atau tidak; guru Alqur'an wanita di madrasah, bila sedang datang bulan. Adapun percampuran yang jelas dan tegas antara ajaran agama dan budaya tampak terang pada orang-orang yang bila melakukan shalat memakai sarung dan peci. Tata cara shalat mereka berdasarkan ajaran agama, sedangkan memakai sarung dan peci, jelas termasuk perilaku budaya. Singkatnya dampak atau kontribusi budaya terhadap konseptualisasi pendidikan Islam ialah agar umat Islam mampu menciptakan budaya yang sesuai dengan tuntutan ajaran Islam atau mengubah budaya yang dapat membuat umat Islam rugi dengan mengaplikasikan ilmu pendidikan Islam yang telah ada.
Komentar
Posting Komentar