Jelaskan wilayah kajian Filsafat Pendidikan Islam dan hal yang membedakannya dengan filsafat pendidikan pada umumnya !
Wilayah kajian Filsafat Pendidikan Islam dan hal yang membedakannya dengan filsafat pendidikan pada umumnya.
Wilayah Kajian Filsafat Pendidikan Islam dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:
a.Secara Makro wilayah kajian filsafat Pendidikan Islam sama dengan wilayah kajian filsafat umum meliputi :
#Kosmologi merupakan pemikiran yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
#Ontologi merupakan pemikiran tentang masalah asal kejadian alam semesta dari mana asalnya, bagaimana proses penciptaannya dan kemana akhirnya. Pemikiran ontology pada akhirnya akan menentukan bahwa ada sesuatu yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu bersifat kebendaan (materi) atau bersifat kerohanian (immateri), apakah ia banyak/berbilang atau tunggal/esa.
#Epistimologi merupakan pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran, apakah dari pengalaman inderawi, apakah dari perasaan/illustrasi, apakah dari Tuhan.
#Aksiologi merupakan pemikiran tentang masalah nilia-nilai, misalnya nilai moral, etika, estetika, nilai religious dan sebagainya.
b.Secara Mikro wilayah kajian Filsafat Pendidikan Islam adalah faktor-faktor atau komponen yang ada dalam proses pelaksanaan pendidikan Islam yang didasarkan pada ajaran Islam antara lain :
#Tujuan Pendidikan merupakan masalah sentral dalam pendidikan, sebab tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan menjadi acak-acakan, tanpa arah, bahkan bisa sesat atau salah langkah. Oleh karena itu perumusan tujuan dengan tegas dan jelas, menjadi inti dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofi
#Pendidik. Keberadaan pendidik dalam dunia pendidikan sangat krusial karena kewajibannya yang tidak hanya mentransformasikan pengetahuan (knowledge) belaka, namun juga dituntut menginternalisasikan nila-nilai (value)Islam pada peserta didik. Dalam konteks pendidikan Islam pendidik disebut murabbi, muallim, muaddaib, mudarris, muzakki dan ustadz.
#Peserta Didik merupakan bahan mentah dalam proses transformasi pendidikan yang memiliki potensi, kebutuhan dan sifat-sifat yang perlu diperhatikan serta beberapa dimensi yang perlu dikembangkan. Sistem Pendidikan Islam berupaya membentuk peserta didik yang beriman, memiliki pribadi utama dan seimbang dalam keseluruhan dimensi kehidupan peserta didik.
#Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam mengantarkan pada tujuan pendidikan. Selain memuattujuan pendidikan yang ingin dicapai dan sejumlahpengetahuan dan ketrampilan peserta didik, di dalam kurikulum juga harus dimuat metode dan cara-cara mengajar serta metode dan cara penilaian yang digunakan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan. Kurikulum pendidikan Islam seharusnya disusun dengan berdasarkan pada agama, dasar falsafah, dasar psikologis dan dasar social.
#Lingkungan Pendidikan merupakan suatu institusi atau kelembagaan di mana pendidikan berlangsung. Lingkungan tersebut akan sangat mempengaruhi terhadap kelangsungan proses pendidikan. Dalam system pendidikan Islam lingkungan yang baik adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri ke-islaman sehingga memungkinkan bagi terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik.
Berdasarkan uraian di muka dapat diketahui bahwa beberapa hal yang membedakan antara Filsafat Pendidikan Islam dengan Filsafat pendidikan umum adalah:
Filsafat pendidikan umum tergantung pada teori dan system pemikiran semata. Sedangkan filsafat pendidikan Islam didasarkan kepada pemikiran yang bersumber dari wahyu Ilahi.
Prinsip berpikir radikal dalam filsafat pendidikan umum memberi makna pada pemikiran tanpa adanya batas. Sementara dalam filsafat pendidikan Islam, berpikir secara radikal memberikan makna kebebasan manusia untuk berpikir yang dibatasi oleh kebenaran wahyu.
Para filosof pendidikan umum dalam berpikir cenderung menimbulkan keraguan yang sulit untuk dikompromikan. Masing-masing teori berupaya untuk mempertahankan pendapatnya sebagai kebenaran. Pengaruh ini melahirkan sejumlah aliran dalam filsafat umum seperti empirisme, nativisme, pragmatism dan sebagainya. Sebaliknya filosof pendidikan Islam, berupaya menghindarkan diri dari keraguan yang bersifat mendasar, karena dalam berpikir para filosof mendasarkan diri kepada kebenaran wahyu. Dengan pendekatan ini menjadikan teori kebenaran yang dikemukakan mengandung kebenaran yang hakiki dan universal, bukan kebenaran yang bersifat relative dan spekulatif yang tergantung kepada ruang dan waktu.
Komentar
Posting Komentar