METODE DAN TUJUAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Dalam Al-Quran maupun dalam Al-Sunnah. (2) mazhab rasional, yang banyak menggunakan akal dalam filsafatnya-ijtihadnya. Mereka juga sebagai Ahlu al-ra’yi atau ahlu al aql. Namun demikian tidak berarti bahwa mereka meninggalkan Al-Quran dan Hadits Nabi, hanya kalau terjadi petentangan antara akal dengan nash, mereka mencari jalan keluarnya dengan ”takwil”(mencari pengertian rasional dari nash tersebut).

Kedua mazhab filsafat dalam islam tersebut, telah mengembangkan cara atau metode ijtihadnya sendiri-sendiri, yang menunjukkan vareasi dan keragaman yang menghiasi sistem filsafat islam. Metode-metode ijtihad seperti Ijma, Qiyas, Istihsan, Ihtihsab, Maslahah mursalah, al‘adah muhakkamah, semuanya adalah berdasarkan penggunaan akal.

Metode Filsafat Pendidikan Islam

Seperti telah dikemukakan, bahwa filsafat pendidikan islam ada yang bercorak tradisional dan dapat pula bercorak filsafat kritis. Pada filsafat pendidikan islam yang bercorak tradisional, tentunya tidak dapat dipisah kan dengan aliran mazhab filsafat yang pernah berkembang dalam dunia islam. Sedangkan pada filsafat pendidikan yang bercork kritis, maka dalam hal ini disamping menggunakan metode-metode filsafat pendidikan islam sebagaimana yang telah berkembang dalam dunia islam, juga menggunakan  metode filsafat pendidikan yang berkembang dalam dunia filsafat pada umumnya.

Filsafat islam dalam memecahkan problema pendidikan islam (problema pendidikan yang dihadapi ummat islam) dapat menggunakan metode-metode antara lain:

Metode spekulatif dan kontemplatif yang merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Dalam sistem filsafat islam disebut tafakkur. baik kontemplatif maupun tafakkur, adalah berpikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang, sunyi, untuk mendapatkan kebenaran tentang hakekat sesuatu yang dipikirkan, hal ini sejalan dengan Al Quran yang di dalamnya banyak ayat ayat yang menyerukan tentang berfikir.Itu artinya betapa Allah mengangap bahwa berfikir itu sangat penting dan tak boleh diabaikan,seperti dalam ayat Al Imron 191.[1]

Pendekatan normatif. Norma, artinya nilai, juga berarti aturan atau hukum-hukum. Norma menunjukkan keteraturan suatu sistem. Nilai juga menunjukkan baik buruk, berguna tidak bergunanya sesuatu. Norma juga akan menunjukkan arah gerak sesuatu aktivitas.

Menurut filsafat Islam, sumber nilai adalah Tuhan dan semua bentuk norma akan mengarahkan manusia kepada  islam. Pendekatan normatif dimaksudkan adalah mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata, dalam filsafat islam bisa disebut sebagai pendekatan syar’iyah, yaitu mencari ketentuan dan menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh menurut syari’at Islam. Obyeknya adalah berkaitan dengan tingkah laku dan amal perbuatan metode ijtihad dalam fiqih seperti ihtihsan, maslahah mursalah, al ‘adah muhakkamah, adalah merupakan contoh  metode normatif dalam sistem filsafat islam.

Analisis Konsep yang juga disebut sebagai analisis bahasa. Konsep, berarti tanggapan atau pengrtian seseorang terhadap sesuatu obyek. Pengertian seseorang selalu berkaitan dengan bahasa, sebagai alat untuk mengungkapkan pengertian tersebut. Dalam sistem filsafat islam, menafsirkan dan menutata’wilkan ayat Al Quran, merupakan praktek kongkrit dari pendekatan analisis konsep atau analisis bahasa. Ajaran islam penuh dengan konsep-konsep filosofis tentang hidup dan kehidupan manusia seperti: iman, islam, ihsan, amal soleh, taqwa, bahagia dan sebagainuya, semuanya adalah menjadi problema pendidikan islam.


Pendekatan historis. Historis artinya sejarah, yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian masa lalu. Peristiwa sejarah berguna untuk memberikan petunjuk dalam membina masa depan, terutama dalam sebuah pendidikan. Ayat Al-Quran banyak menganjurkan untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Dalam sistem filsafat islam, penggunaan sunnah nabi SAW. sebagai sumber hukum, penelitian-penelitian akan hadits yang menghasilkan pemisahan antara hadits palsu dan hadist sahih, pada hakekatnya ini merupakan contoh praktis dari penggunaan analisis historis dalam filsafat pendidikan islam.


Pendekatan ilmiah terhadap masalah-masalah actual, yang pada hakekatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam islam. Pendekatan ini tidak lain adalah merupakan realisasi dari ayat Al-Quran yang artinya:


“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu sendirilah yang berusaha untuk mengubahnya “.(Q.S. Al Ra’d 11).[2]

Usaha untuk mengubah keadaan atau nasib, tidak mungkin bisa terlaksana kalau seseorang tidak bisa memahami permasalahan-permasalahan actual yang dihadapinya dan hal ini juga merupakan problema pokok filsafat pendidikan islam masa sekarang.

Dalam sistem filsafat Islam, Pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komprehensif dan terpadu, antara sumber-sumber  naqli, akli dan imani, sebaimana yang nampak dikembangkan oleh Al Ghazali. Menurut Al Ghazali, kebenaran yang sebenarnya, yaitu kebenar yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran. Kebenaran yang mendatangkan keamanan dalam jiwa, bukan kebenaran yang mendatangkan keraguan. Untuk mencapai kebenaran yang benar-benar diyakini harus melalui pengalaman dan merasakan. Pendekatan ini, lebih mendekati pola berfikir yang empiris dan intuitif.[3]


B.Tujuan Mempelajari Filsafat Islam

Filsafat pendidikan islam adalah pengetahuan yang membahas segala persoalan yang menyangkut pendidikan yang bersumber pada ajaran islam, dengan maksud memperoleh jawaban, dan dipergunakan sebagai arah pelaksanaan dan pengembangan pendidikan islam agar berdampak positif bagi kehidupan ummat islam.an

            Mengenai tujuan filsafat pendidikan islam Muhammad as-said merumuskan tujuan filsafat pendidikan islam selain memberikan penjelasan-penjelasan dan membantu menyelesaikan berbagai masalah pendidikan, lebih jelasnya di rinci sebagai berikut:

Merupakan landasan atau dasar bagi pendidikan islam, disamping membantu atau menunjang terghadap berbagai tujuan bermacam-macam fungsi pendidikan islam serta meningkatkan muto dalam pemecahan dalam problematika pendidikan dan juga memperbaiki pembaharuan pelaksanaan pendidikan serta perinsip dan metode mengajar, yang mencakup evaluasi, bimbingan dan penyuluhan.


Filsafat pendidikan islam juga bertujuan untuk membentuk sistem pendidikan yang khas. Yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai islam. Nilai-nilai yang di kembangkan dalam kaum muslimin, dengan kebudayaan dan suasana perekonomian, social dan politik serta dengan semua tuntutan pada masa dan tempat di mana kita hidup sekarang ini.[4]    


            Omar  Muhammad al- Toumi al Syaibany mengemukakan tiga manfaat dari mempelajari filsaft pendidikan islam yaitu sebagai berikut:

Filsafat pendidikan itu dapat menolong para perancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu Negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan.

Filsafat pendidikan dapat menjadi asas yang terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti yang menyeluruh.

Filsafat islam akan menolong dalam memberikan pendalaman bagi factor-fakror spiritual, kebudayaan, social dan politik Negara.

            Muzayyin Arifin menyatakan bahwa filsafat pendidikan islam seharusnya bertugas dalam tiga dimensi, yakni:

1)   Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran islam.

2)      Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses dan pelaksanaan pendidikan

3)      Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan tersebut.

            Dengan memperhatikan uraian tersebut dapat di ketahui ternyata filsafat pendidikan islam bertujuan mengarahkan dan memberikan landasan pemikiran yang sistematis, mendalam, logis, universal, dan radikal, terhadap berbagai masalah yang beropersi dalam bidng pendidikan dengan menempatkan Al-Qur’an sebagai dasar acuannya.[5]

DAFTAR PUSTAKA

http://docs.google.com/document/d/1EOU2vwhCwA_xxSLJxCc_h9gjENxR4_XLjACL8tTZm4./.01-05-2013

http://WWW.google. Com / gwt /x ? hl: id & u : http: ebook rowse.com.09-05-2013

Imam al Ghazali,Dahsatnya Syukur  & Tafakkur,(ISBN/KDT;Metraprees,2010)

Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta; BUMI AKSARA, 2004)

-[1] Imam al Ghazali,Dahsatnya Syukur  & Tafakkur,(ISBN/KDT;Metraprees,2010) hlm.13

[2] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta; BUMI AKSARA, 2004), hlm.133


[3] Ibid. hlm. 134



[5] http : // WWW. google.com /gwt / x ? hl : id & u: // ebook rowse. Com.


Komentar